asianbeat Website pop-culture multilingual

  • facebook
  • twitter

#9 Menelusuri kembali tahun 2018(2/2)

  |  Next
Untuk merespon hal ini, kontribusi pihak pemerintah di Sydney dan kota-kota lainnya dalam mengelola dan memberi dukungan terhadap budaya pun menjadi hal yang semakin umum. Saat ini Melbourne merupakan kota dengan rasio venue live concert per populasi tertinggi di dunia. Selain itu, mereka juga secara aktif berkontribusi terhadap ekonomi malam yang saat ini sedang menjadi trend mancanegara, salah satunya melalui program deregulasi untuk memberikan berbagai kemudahan.

Di tengah suasana kovensi dengan para presenter dari berbagai penjuru dunia ini, diskusi pun menjadi semakin dalam. Ketika kita bicara dari sisi ekonomi, sama seperti di Jepang, ujung pembicaraannya akan mengarah ke superstar maupun pop star. Tapi musik adalah budaya yang penuh ragam, dan pada dasarnya adalah hal yang personal. Seluruh peserta setuju bahwa pemerintah perlu memegang peran untuk memilah hal-hal yang bukan komersil tapi memiliki nilai-nilai tersendiri, dan memberikan dukungan terhadapnya. Bagaimana dengan di Jepang, dan juga di Fukuoka? Kalau kita memikirkannya sebagai konten pariwisata, konsep yang serupa dengan yang ada di Melbourne bisa menjadi salah satu strategi pemerintah yang efektif. Mungkin ada baiknya kalau kita mempertimbangkan dukungan terhadap budaya, terutama ketika kita berpikir untuk jangka panjangnya.

深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡
Pada hari terakhir konvensi, akhirnya tiba giliran saya untuk presentasi. Saya merasakan bagaimana mereka, termasuk staff event dari London, sangat memperhatikan. Saya segera merasakan bagaimana semua peserta sangat tertarik ketika mendengarkan cerita tentang Fukuoka di mana "5 festival diadakan dalam rentang waktu 1 bulan." Setelah presentasi pun berbagai pertanyaan bermunculan. Tidak hanya "AWESOME," kata-kata pujian tingkat tinggi seperti "CRAZY CITY" pun juga mereka lontarkan. Kalau dipikir-pikir lagi, mengadakannya setiap akhir pekan di berbagai lokasi yang bukan hall, seperti di pantai, area hiburan, stasiun maupun pusat perbelanjaan dan area pusat kota mungkin merupakan hal yang tidak masuk akal. Ketika kita bicara tentang mentalitas unik bersejarah panjang, yang suka dengan festival dan penuh dengan semangat membara, orang-orang jadi semakin tertarik, dan saya pun jadi semakin percaya kalau ini bisa mengundang turis mancanegara juga.
深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡
深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡
Setelah presentasi berakhir, farewell party diadakan di museum pada malam hari, dengan panggung yang sangat menarik perhatian, menghadirkan berbagai musik mulai dari HIPHOP hingga ROCK. Tentunya berbagai barang pameran pun bisa dilihat dengan bebas, sangat menyenangkan. Saya pun pulang dengan pemikiran ingin mengundang "Music Cities Convention" yang diadakan di berbagai kota musik secara bergilir ini ke Fukuoka dalam waktu dekat.

Ingin untuk semakin aktif berinteraksi dengan luar negeri!

Melalui perjalanan ini, saya jadi yakin bahwa Fukuoka harus mempertimbangkan kota original berbudaya internasional sebagai salah satu targetnya. Untuk mencapai hal ini, kolaborasi dengan negara-negara Asia lainnya pun menjadi hal yang penting. Karena itu, Desember lalu saya juga pergi ke Thailand untuk melihat "BIG MOUNTAIN MUSIC FESTIVAL (BMMF)" yang diorganisir oleh TED, produser musik dari Thailand yang saya kenal melalui "ASIAN PICKS," salah satu rangkaian dari "Fukuoka Music Month."

Dalam BMMF kali ini, di mana Suchmos dan Five New Old dari Jepang turut berpartisipasi, sekitar 80000 pergerakan orang terjadi selama 2 hari festival ini berlangsung, memperlihatkan posisinya sebagai salah satu festival terbesar di Thailand. Sebelumnya festival ini juga pernah diperkenalkan di asianbeat (⇒ [Artikel Khusus] Big Mountain Music Festival4 Event Report *Dalam Bahasa Jepang). Delapan panggung dihadirkan di venue raksasa yang aslinya merupakan lapangan golf dalam festival ini, berkeliling di venue yang luas itu saja membutuhkan cukup banyak energi.

Festival ini ditargetkan terutama untuk audience dari kalangan muda, panggung yang menghadirkan artis-artis yang populer di Thailand diramaikan oleh sekitar 7-8 ribu orang, saya jadi ikut senang melihat antusiasme para pemuda Thailand terhadap musik. Ketika suasana venue sedang memuncak, tibalah giliran Suchmos untuk tampil di panggung. Pada akhir tahun, untuk pertamakalinya ia telah tampil dalam Kouhaku (program TV spesial pergantian tahun di Jepang), dan di Jepang mereka sangat populer, bahkan hingga melakukan tour dengan skala besar. Tapi saya kaget, penampilan mereka hanya dilihat oleh sekitar 200 orang. Saya pun sempat ngobrol dengan Jin, produser musik asal Jepang yang saat ini menetap di Thailand, yang kebetulan juga hadir dalam festival kali ini, menurutnya, penampil yang didatangkan dari luar negeri bisa dibilang seolah tidak terpromosikan, alhasil berakhir seperti ini. Kalau dipikir-pikir kebalikannya, selain sebagian kecil dari artis K-POP yang ada, ada banyak artis asing yang mengalami kesulitan dalam karir mereka di Jepang saat ini. Hal ini menjadi tugas juga untuk kedepannya. Walaupun begitu, ini juga menjadi satu kesempatan tersendiri, di mana Fukuoka mungkin bisa berperan sebagai hub dan menjadi basis yang mendukung pertukaran untuk kedua belah pihak.


Walaupun ditonton oleh audience yang tidak banyak, Suchmos tetap membawakan penampilan terbaik mereka. Ketika saya berkunjung ke backstage, semua member termasuk YONCE pun tampak kaget ketika menyambut saya. Dengan komentar TAIKING (gitar) "Jadi teringat 5 tahun yang lalu ketika pertama kali tampil di SUNSET LIVE," tanpa sadar saya merasakan semangat baru, menutup cerita pengalaman pertama saya menghadiri BMMF.

深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡
Selain menjadikan "Fukuoka Musik Month" yang mendapat tanggapan baik dari luar negeri ini sebagai simbol dari Kota Musik・Fukuoka, saya ingin Fukuoka terus bertumbuh menjadi "kota di mana musik bergema" sepanjang tahun dan semakin aktif berinteraksi dengan luar negeri. Sebagai langkah baru, Fukuoka Airport yang merupakan pintu masuk menuju Fukuoka bisa dijadikan salah satu venue, di mana kita bisa mulai menghibur para turis dan businessman yang datang ke Fukuoka dengan musik. Kita bisa menawarkan hiburan kepada orang-orang yang sedang bersantai sejenak di area food court.

DON'T STOP THE MUSIC CITY!!!

深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡
深町健二郎Presentsアジアの音楽都市福岡

PROFILE

Kenjiro FukamachiKenjiro Fukamachi
Music Producer

Lahir di Fukuoka pada 1961. Telah memiliki minat di bidang musik sejak usia 9 tahun, waktu masih mahasiswa, setelah grup band di mana artis asal Fukuoka, Takanori Jinnai berafiliasi, Rockers dibubarkan, Kenjiro membentuk "Nelthorpe" bersama gitaris Nobuo Tani. Setelah itu, bekerja di sebuah perusahaan tur di Fukuoka, menangani event tur konser musik sejak masa persiapan pembukaan SOLARIA PLAZA sebagai event producer. Merupakan produser sekaligus MC untuk Sunset Live, sebuah event yang diadakan di Itoshima City sejak 1998, yang merupakan kolaborasi antara berbagai artis, musisi, dan penari di area Fukuoka. Juga aktif menulis dan sering muncul di berbagai program TV, dan saat ini aktif di area Fukuoka sebagai music producer.

Facebook: facebook.com/kenjiro.fukamachi
Twitter: @kenjirokenjiro

Artikel Terkait

Comment section ini adalah tempat bagi pembaca untuk memberikan pendapat dan komentar. Komentar yang tidak sesuai dapat dihapus oleh pihak asianbeat, karena itu tolong tulis komentar dengan sopan. Terima kasih!
  |  Next

WHAT’S NEW

EDITORS' PICKS

  • This is Fukuoka
  • Interview Now
  • Misako Aoki’s “Kawaii Revolution” Interviews  Produced by 
Takamasa Sakurai
  • WFS
  • オタクマップ
  • HOT SPOTS

PRESENTS

Semua informasi hadiah asianbeat Present Campaign!
  • Hase Norihito Ito Kent
  • * Win a card signed by Hase Norihito and Ito Kent! Apply by 8 December 2019!
  • LinQ
  • *Win a card signed by LinQ!
  • 10JIN ACTOR
  • *Winner announced! A card signed by 10JIN ACTOR (Matsushima Yunosuke, Magoshi Takumi, MOTO)!