icon Pengendalian penyakit menular Novel COVID-19 diberlakukan di setiap daerah.
Untuk info terkait event dan status operasional toko, silahkan cek official website yang bersangkutan.

asianbeat Website pop-culture multilingual

  • facebook
  • twitter
  • Instagram

Belasan film Jepang terbaru tayang di Japanese Film Festival 2016 di Jakarta(3/3)

  |  Next

Kesan dan pesan Shuhei Nomura & Norihiro Koizumi mengenai JFF 2016

Japanese Film Festival 2016
Shuhei Nomura dalam press conference JFF 2016

Shuhei Nomura (SN): Terima kasih banyak atas kedatangannya pada hari ini. Ini pertama kali saya datang ke Indonesia, dengan undangan dari Japan Foundation untuk Japanese Film Festival. Chihayafuru adalah sebuah karya yang luar biasa, dan semoga Anda semua dapat menikmatinya dan masyarakat Indonesia jadi lebih tahu dan suka dengan budaya Jepang. Selamat menikmati.

Japanese Film Festival 2016
Sutradara Norihiro Koizumi memberikan kesan mengenai JFF 2016

Norihiro Koizumi (NK): Terima kasih banyak atas undangannya dalam kesempatan Japanese Film Festival ini, saya sangat senang. Ketika membuat film ini, saya terpikir juga ingin memperkenalkan budaya Jepang. Tapi saat itu saya terlalu sibuk. Setelah film ini jadi, ternyata saya punya kesempatan untuk membawanya keluar Jepang. Film ini tanpa disadari mampu menggambarkan budaya Jepang yang lama dan yang baru jadi ini merupakan film yang cocok untuk memperkenalkan budaya Jepang. Oleh karena itu saya merasa sangat bangga. Saya harap masyarakat Indonesia jadi lebih suka dengan film Jepang. Terima kasih.

Wawancara bersama Shuhei Nomura & Norihiro Koizumi

Pertanyaan untuk Nomura, apa tantangan terberat dalam memerankan karakter Taichi? Apa Anda sendiri juga memainkan karuta?

SN: Sebelumnya saya belum pernah memainkan karuta, dan dari film ini saya jadi mengenal kartu-kartunya dan cara bertandingnya. Maka dari itu saya merasa bersyukur.

Pertanyaan untuk sutradara Koizumi, apa tantangan terberat dalam mengadaptasi film dari manga?

NK: Perbedaan terbesarnya adalah dalam menggambarkan “waktu”. Kalau di dalam manga, gambarnya statis sedangkan dalam film gambar selalu bergerak. Yang paling sulit adalah ketika adegan mengambil kartu. Kalau dalam gambar manga, waktu seolah berhenti ketika kita sedang mengambil kartunya. Namun dalam film, moment tersebut harus berjalan sangat cepat. Kemudian manga itu kan ceritanya panjang, sedangkan film durasinya singkat, jadi bagaimana kita merangkum cerita yang panjang, tetap menjaga kelebihan cerita manga-nya, tapi juga menjadi film yang bisa dinikmati penonton tanpa membaca manga-nya. Menurut saya itu tantangannya.

Bagaimana Anda melihat peluang film Jepang di luar negri saat ini, termasuk penayangannya di Indonesia?

NK: Karena Jepang adalah negara kepulauan, biasanya film Jepang itu diproduksi untuk dalam negeri sendiri. Sebagai seorang kreator, saya senang film saya ditonton masyarakat Jepang. Tapi ada juga rasa penasaran, bagaimana kalau kreasi saya ini bisa ditonton masyarakat dunia. Sayangnya belum ada kesempatan. Maka dalam kesempatan ini saya sangat senang karena film Jepang bisa ditonton masyarakat dunia. Jika penonton di dunia semakin banyak, bisa jadi konten film Jepang nanti disesuaikan agar bisa dinikmati di seluruh dunia. Saya ingin sekali menjadi salah satu yang mendukung agar film Jepang bisa dinikmati di seluruh dunia.

Pertanyaan untuk Nomura. Menurut Anda apa yang membuat film Chihayafuru menarik untuk ditonton, selain dari jalan ceritanya?

SN: Di samping jalan ceritanya, tentunya action juga, saat adegan bertanding karuta. Selain itu teknologi visual terkini juga menarik untuk diperhatikan.

Untuk sutradara Koizumi, apakah memungkinkan bagi Anda untuk berkolaborasi dengan sineas Indonesia?

NK: Potensi untuk kolaborasi dengan sineas Indonesia sangat memungkinkan, seperti yang dilakukan oleh Chelsea Islan beberapa waktu lalu, dalam film drama percintaan atau love-comedy, yang menggambarkan perbedaan budaya dua negara. Satu hal yang menjadi pemikiran saya adalah situasi di Indonesia untuk melakukan proses syuting. Karena di Jepang sangat sulit mendapatkan ijin syuting, jadi adegan culture exchange akan sulit dilakukan di Jepang. Saya ingin tahu kalau di Indonesia bagaimana. Jika lebih leluasa, maka ambil lokasi syuting di Indonesia akan lebih baik. Selain itu jika bukan melalui proses syuting, melalukan kolaborasi dalam proses post-production juga memungkinkan.

Untuk Nomura dan sutradara Koizumi, apakah kalian sudah pernah menonton film Indonesia? Jika belum, kira-kira film Indonesia genre apa yang ingin kalian tonton?

SN: Mungkin sudah pernah lihat, tapi saya tidak yakin itu film Indonesia atau bukan. Saya dengar film action Indonesia sangat bagus, jadi saya sebagai aktor jika bisa bergabung di film action Indonesia akan sangat senang.

NK: Saya pernah menonton The Raid. Film itu pernah diputar di bioskop di Shibuya, dan saya menonton, actionnya sangat luar biasa. Tapi saya yakin film Indonesia tidak hanya film action, jadi saya tertarik juga untuk menonton film kisah seputar keluarga supaya saya bisa melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Artikel Terkait

Link Eksternal

  |  Next

WHAT’S NEW

EDITORS' PICKS

  • This is Fukuoka
  • Interview Now
  • WFS
  • オタクマップ
  • HOT SPOTS

PRESENTS

Semua informasi hadiah asianbeat Present Campaign!
  • Okasaki Miho, Kumada Akane, MindaRyn
  • ◆ Winner announced! Menangkankartu yang telah ditandatangani oleh Aoyama Yoshino dan Suzushiro Sayumi!
  • Okasaki Miho, Kumada Akane, MindaRyn
  • ◆ Winner announced! Menangkankartu yang telah ditandatangani oleh Okasaki Miho, Kumada Akane, dan MindaRyn!
  •  That Time I Got Reincarnated as a Slime the Movie Guren no Kizuna-hen
  • ◆ Winner announced! Menangkan Movie "Tensura" official acrylic smartphone stand dan Rimuru eco bag!